Tiba-tiba ada inspirasi buat cerita… Jadilah ini. Masih perlu banyak perbaikan.. ^^
———————————————————————————————-
Suasana kota ini sedikit berbeda. Lebih ramai dari saat aku pergi dulu. Sudah ada jembatan layang diperempatan menuju terminal. Lalu lintas lebih teratur meski lebih padat. Busku perlahan memasuki terminal. Teriakan kondektur dan antusiasmenya menarik calon penumpang membuat tersenyum. Sepertinya mereka memang menyebalkan, tapi itulah adanya. Mereka hanya manusia biasa yang perlu melakukan upaya untuk mencari nafkah. Berbagai cara dia lakukan untuk menyambung hidupnya.
Busku sudah berhenti. Sengaja aku tidak segera turun. “Nanti saja”, pikirku. Sedikit enggan berdesakan keluar bus. Aku toh tidak ada yang menjemput, jadi tak ada gunanya terburu-buru. Setelah agak sepi barulah aku beranjak, mengambil tas ranselku di tempat bawaan di atas kursi. Membetulkan letak jaketku dan segera turun.
“Landungsari landung sari,,, Landungsari mas? Gawe AL. Kebek-kebek,,, langsung budal” (landungsari landung sari. Landungsari, Mas? Naik AL. Penuh, langsung berangkat). Teriak kernet menghampiriku. Wajahnya sudah penuh peluh. Meski mukanya tampak garang, tapi sepintas ada garis lelah disana. “Mboten, Pak. Maturnuwun” (Tidak, Pak. Terima kasih). Aku menolaknya dengan halus. Seharusnya aku naik angkutan itu untuk sampai ke rumahku. Hanya saja kali ini aku ingin ke suatu tempat.
———————————————————————————————–
“Kiri, Pak“. Aku memberhentikan angkotan kota yang aku naiki. Aku menyeberang. Heem.. Udara di kota ini sungguh lengang dan segar. Suasana ini yang ingin aku temui. Meski ada suasana lain yang sesungguhnya aku hindari dari kota ini. Dan kali ini aku benar-benar harus berhadapan dan tidak bisa lepas dari suasana itu. Aku berjalan dan terus mengamati keadaan di sekelilingku. Dulu, 10 tahun lalu, ketika aku masih SMA, pinggiran jalan ini hanya diisi rumah-rumah dengan gaya kolonial klasik. Berwarna krem pucat atau putih dengan taman dominasi dedaunan berwarna hijau subur. Aku sering berjalan sambil bermain bola di sini. Saat ini suasana itu sudah hilang ditelan waktu. Rumah-rumah lebih berwarna. Taman yang diganti paving. Dan adanya papan lampu bertuliskan nama usaha yang sedang di dirikan di atas tanah-tanah bekas rumah itu. Segalanya telah berubah.
Yang tidak berubah adalah hatiku. Dihatiku masih ada satu nama dari sejak aku SMA hingga saat ini. Hanya ada nama Ajeng di hatiku. Tidak ada yang lain. Sungguh aku sangat konservatif. Kepergianku ke luar kota untuk melupakannya tak juga merubah isi hatiku. Aku lihat lapangan voli. Di sampingnya berderet pepohonan. Mulai pohon mangga hingga tanaman pagar. Masih rapi seperti dulu. Aku duduk di pinggir lapangan ini. Aku masih ingat, di tempat ini aku lihat Ajeng untuk pertama kalinya. Saat itu dia sedang keluar dengan teman-temannya. Dia berlari-lari kecil. Saat itu hujan. Aku hanya berani memandangnya sekilas. Tak ada keberanian dalam hatiku untuk menegur atau mengajaknya berkenalan. Aku malu dan agak segan.
Sejak saat itu aku selalu duduk di tempat ini, untuk melihatnya keluar. Meski aku satu sekolah dengannya, aku merasa disinilah bisa melihatnya tanpa takut dia menyadari bahwa aku sedang mengamatinya. Saat itu aku selalu berdoa, agar aku bisa mengenalnya lebih dekat. Entah bagaimana caranya. Karena aku pemalu. Sampai saat aku kelas 3, sungguh aku sangat bersuka cita, aku sekelas dengannya. Dia duduk di depan. Aku di belakang. Meski hanya memandangnya dari belakang sudah cukup. Aku jadi lebih mengenalnya, bagaimana cara dia berbicara, caranya menjawab pertanyaan guru, dan bagaimana dia memperhatikan guru saat pelajaran. Satu semester itu aku belum berani berbicara padanya. Bahkan aku menghindari satu kesempatan bersama dengannya. Aku selalu salah tingkah.
Semester kedua, aku mulai kenal dengannya. Aku mulai berani menyapanya. Tentu saja dengan malu-malu. Aku sudah sangat senang jika dia menyapaku terlebih dahulu (tentu saja dia melakukan itu, aku teman sekelasnya). Aku semakin dekat, mulai teman satu kelompok untuk laboratorium dan les tambahan. Aku jadi semakin mengaguminya. Perasaan ini aku simpan rapat dan erat. Aku tak ingin dia mendengar dan membuatnya menjauhiku. Meski aku yakin dia bukan gadis yang seperti itu. Ajeng tentu memiliki banyak penggemar di sekolah ini. Tidak seperti aku yang hanya mampu memandangnya dan mengamatinya saja. Aku tidak punya nyali. Ajeng yang berpembawaan tenang tetapi ramah dan pintar tentu dengan menambat hati siapa saja. Termasuk aku.
Saat itu kita harus giat belajar, menjelang ujian kelulusan. Les tambahan semakin intensif. Aku semakin sering melihatnya dan mengenalnya. Sampai pengumuman kelulusan aku belum melakukan apa-apa. Sedih hatiku saat melihatnya membaca pidato perpisahan murid kelas 3 di hadapan guru dan orang tua saat malam wisuda. Senang mendengar dan melihatnya tersenyum cerah karena sudah diterima di perguruan tinggi yang diharapkannya tanpa tes. Senang karena aku juga mengalami hal yang sama. Sekaligus sedih, karena saat inilah aku harus terpisah dengannya. Kota yang berbeda akan membuatku semakin jauh dan aku tak berani sedikitpun mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya mampu menyimpannya dalam hati saja.
———————————————————————————————
Aku sudah bertekad bulat. Ingin meminangnya. Kepulanganku kali ini adalah untuk menemuinya dan kemudian memastikan dia belum menikah dan aku meminangnya. Aku harus memenuhi janjiku sendiri. Aku berjanji akan meminangnya jika aku sudah usia 26dan aku masih belum bisa menghapus namanya dari hatiku. Aku menghela napas dan memejamkan mata seraya berdoa “Ya Allah.. bantulah dan berikanlah hambaMu ini ketenangan serta keikhlasan hati.”
Bersambung ya,,

Masih dalam edisi melow.. akibat kebanyakan dengerin lagu korea yang melow aku sekarang sedang suka memikirkan hal-hal yang sedih.. Bukan demotivasi, cuma sedang mood berpikir pakai hati (hihi, yah something like that).


