Archive for Belajar Yukz

Planning without commitment is nothing

Planning

This picture taken from: http://www.learnthenet.com

Yang paling penting dari suatu rencana itu komitmen. Planning without commitment is nothing.

Houuw, bukan tanpa sebab tiba-tiba aku nulis gitu yah. Ceritanya, kadang ni aku punya planning yang baguuss banget. Saking bagusnya aku sampe berasa amazing bisa punya pemikiran buat planning yang kaya gitu (hehehe, muji diri sendiri). Sampe akhirnya waktu berlalu dan berselang, aku merasa ada yang hilang. Woouw, ternyata aku belum terlalu merasakan manfaatnya planning yang aku buat itu.

Atau mungkin kasus yang beda dari suatu perusahaan. Saking gedenya ni perusahaan ni punya Function yang namanya Planning Division. Tugas utama ya jelas sesuai namanya itu, buat perencanaan. Timnya ada sekitar 10 orang. Yang masing-masing punya job desk sendiri, ada yang tugasnya buat financial planning, business plan, activity plan, strategic plan, people development plan, n plan-plan yang lainnya. Sama kaya aku, ternyata perusahaan ini juga belum merasakan implikasi yang signifikan dari adanya perencanaan.

Kalau yang dari tingkat pribadi seperti cerita pribadiku, alasan kenapa planning yang udah di define gak terlaksana dengan baik karena keterbatasan waktu. Okay, katakanlah ini benar. Waktu yang ada memang bener-bener terbatas. Hingga akhirnya sang pemilik waktu memprioritaskan hal-hal yang lainnya. Kaya aku! Hehehe, pengakuan nih ceritanya. Punya banyak rencana tapi kadang terlaksana cuma 2. Semoga habis ni bergerak ke arah yang lebih baik yah. Ohya, gunakan semua fasilitas reminder buat ngingetin kita ma self planning yang udah di buat. Manfaatkan HP sampe ke outlook. Itu semua supaya kita ingat n punya komitmen yang tinggi buat nerapin planning yang udah dibuat.

Kalau yang tingkat perusahaan gede, suatu perencanaan membutuhkan komitmen yang kuat dari semua stakeholders-nya, mulai dari shareholders, CEO, Top Leaders, Manager, sampai ke Karyawan. Kenapa musti punya komitmen? Karena ketika suatu function telah menyelesaikan tugasnya membuat perencaan, sejatinya itu hanya selesai 20% aja (sesuai Teori Pareto Chart: menyelesaikan perencanaan hanya menyelesaikan 20% pekerjaan saja, sisanya terselesaikan setelah planning itu terimplementasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan).

Jadi, komitmen dan konsistensi jadi kunci efektivitas planning yang udah kita buat. Artikel ini sekaligus jadi reminder buat diriku sendiri :)


Comments (3) »

My 1st Mind Mapping Sheet

Seperti yang aku dulu pernah bahas tentang mind mapping, kali ini aku bener-bener niat buat praktik langsung, Hehehe.. emang agak jadul, bahasnya kapan praktiknya kapan ya?  gakpapalah, daripada aku gak nyoba sama sekali. Ya kan? Awal mulanya waktu weekend kemarin lagi di rumah aja. Mau baca komik kok masih ogah. Ogahnya karena ketauan ada 2 buku serius yang musti aku baca (tuntutan kerja ini ceritanya). Mau baca komik merasa bersalah cz masih ada PR yang belum diselesaiin. Mau baca buku itu tapi kok heemm? ngerti maksudnya kan? hehe.. ya begitulah. Maafkan aku employerku, bukan employee Anda ini tidak mau menjalankan amanah, hanya saja lagi ingin baca komik2 lucu, hehehe.

Setelah menimbang-nimbang dan memandangi buku-buku yang “harus” aku baca dan “ingin” aku baca, diputusinlah: membaca buku yang harus aku baca terlebih dahulu. Aku mulai yang judulnya “business strategy” dari Jeremy Kourdi. Langsung cari pose pas buat baca, pasang kacamata, n duduk sempurna di meja. Baru bab pertama, sudah mulai sedikit batuk.. Huk uhuuuhk…. ternyata materinya memang superserius. Saking seriusnya butuh energi lumayan banyak buat nyerna maksudnya.. (lebay,hehe). Terdiam lagi sejenak sebelum melanjutkan baca. Aku ambillah kertas kosong n boxy (bukan pulpen, biar garisnya tegas n jelas). Niatnya mau bikin notes tentang esensi bab. Langsung ingatlah aku ama metode mind mapping yang kapan itu

Udah lumayan lama kenal ama mind mapping, cuma gak pernah praktik, cuma asal tahu. Cuma akhir-akhir ni semakin akrab ajah. Sampe aku belilah bukunya. Aku beli 2, beda topik tapi esensinya tetep mind mapping untuk kegiatan sehari-hari (sekarang lagi dipinjem semua). Secara keseluruhan buku ini bagus buat memetakan segala hal yang ada di dalam pikiran. Ada yang pernah bilang: “catatlah segala sesuatu yang kamu pikirkan”. Manusia mempunyai memori yang terbatas, kalau kita rajin mencatat Insya Allah hal-hal penting masih bisa didokumentasikan. Nah, disini peran mind mapping itu. Mencatat dengan menggunakan perpaduan otak kanan dan otak kiri. Cara mencatatnya juga beda, bukan kaya dibuku byasa. Kaya gambar ular. Topik utama yang dibahas sengaja diletakkan di tengah untuk jadi pusat pemikiran (emphasis).

Hasil mind mappingku? Persis ular.. kaya gini:

Mind mapping2



Comments (5) »

Five Forces to Analyze Business Strategy-Michael E. Porter

Alhamdulillah… kelar sudah review tentang 5 Forces. Baru dua sudut pandang yang coba dilebur disini.

———————————————————————————————–

How competitive forces shape strategy? Berangkat dari pertanyaan itu, Michael E. Porter mencoba menjelaskan tentang pentingnya menciptakan strategi. Inti dari strategi adalah mengatasi kompetisi dengan para kompetitor. Kompetitor bukan hanya perusahaan sejenis, tetapi juga pendatang baru (potential enthrants), pemasok (suppliers), konsumen (customers), dan barang pengganti (subtitute products or services). Kelima aspek tersebut bekerja dalam waktu yang bersamaan, dan saling mempengaruhi strategi perusahaan. Lebih sistematisnya, di jelaskan dalam gambar di bawah ini:


Five Forces Governing Competition in an Industry-Mich. E. Porter

Five Forces Governing Competition in an Industry-Mich. E. Porter

a. Kompetitor-Persaingan dalam Industri (Competitors Industry-Segment Rivalry)

Tingkat persaingan dalam suatu industri dapat diukur dengan menggunakan The Concentration Ratio (CR). CR mengindikasikan market share yang diperoleh 4 perusahaan terbesar dalam industri tersebut.

Penilaiannya:

  • Semakin tinggi CR, berarti ada perusahaan yang memiliki market share dalam jumlah besar dalam industri tersebut. Dalam hal ini kondisi pasar dikatakan hampir mendekati jenis pasar monopoli (karena ada yang bisa menguasai pasar)
  • Semakin rendah CR , maka semakin rendah market share yang terbagi di antara kompetitor dalam industri tersebut. Persaingan ketat, karena tidak ada yang memiliki market share dengan jumlah yang signifikan. Jika ini terjadi, perusahaan memerlukan informasi tentang trend pasar.

Indikasinya seperti ini: (http://en.wikipedia.org/wiki/Concentration_ratio)

Perusahaan bisa menerapkan beberapa strategi agar unggul dibandingkan kompetitor lainnya:

  • Harga. Perusahaan bisa menurunkan atau bahkan menaikkan harga untuk mendapatkan ‘temporary advantage’. Contoh yang paling mudah adalah persaingan harga (tarif) diantara operator telepon. Misalnya, Axis menurunkan tarif telpon Rp.1/nelpon mulai januari hingga april. Ini bertujuan untuk mendapatkan pelanggan-menarik pelanggan. Ketika Axis mulai memainkan strategi ini, tak lama kemudian XL mengeluarkan strategi serupa yaitu, nelpon Rp.0,1 sepuasnya. Dan jika ditelusuri keduanya tidak jauh berbeda. Hanya permainan harga (tarif) untuk menarik pelanggan.
  • Fokus pada differensiasi produk.

Menurut Kotler, differensi produk berarti melakukan suatu usaha untuk membuat perbedaan antara produk yang kita tawarkan dengan produk lainnya. Differensiasi produk dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui harga, kualitas, pilihan produk, pangsa pasar, pelayanan, proses, preferensi (membentuk mind set konsumen)teknologi, dan lainnya (ada banyak pendapat dari Kotler, Jack Trout, Hermawan Kartajaya- ini sengaja diringkas untuk kesederhanaan penulisan, yang simpel-simpel aja, hehe).

Misalnya:

a. Mc Donald menyediakan differensiasi pelayanan dan proses dengan membuat “60 seconds program”, dimana konsumen yang dilayani lebih dari 60 detik akan mendapatkan ice cone.

b. Pocari Sweat melakukan differensiasi preferensi dengan slogannya “pengganti ion tubuh”, atau Soy Joy “sebagai camilan sehat karena kaya anti oksidan”

c. Beberapa bank menerapkan internet banking untuk memudahkan pelanggan yang menggabungkan differensiasi teknologi dan pelayanan.

  • Memanfaatkan sistem distribusi secara optimal dan unik. Di indonesia, beberapa produk mulai menjalin kerjasama dengan jasa retailer. Misalnya, pada saat awal masuk ke pasar, snack anak-anak Recheese Nabati hanya bisa dibeli di Carrefour dan Alfamart. Strategi menguntungkan kedua belah pihak. Recheese memanfaatkan posisi Carrefour dan Alfamart sebagai penyedia jasa retailer yang sudah mempunyai tempat di masyarakat dan memiliki jaringan yang luas.
  • Memanfaatkan kerjasama dengan supplier. Dengan menjalin kerjasama yang baik dengan supplier, perusahaan bisa mendapatkan bahan baku dengan kualitas baik, waktu pengiriman yang tepat waktu, dan sistem pembayaran yang fleksibel sehingga menguntungkan perusahaan.

Persaingan perusahaan dalam suatu industri dipengaruhi oleh:

  • Jumlah perusahaan yang ada dalam industri. Semakin banyak jumlah perusahaan maka persaingan semakin kompetitif karena semakin banyak perusahaan yang bersaing dalam memperoleh pangsa pasar dan sumberdaya.
  • Pertumbuhan pasar yang lambat menyebabkan perusahaan berjuang keras untuk mendapatkan market share. Sedangkan dalam pasar yang sedang berkembang, perusahaan dapat memperoleh pendapatan dengan mudah.
  • Biaya tetap yang tinggi akan mempengaruhi economy of scale perusahaan yang mencerminkan tingkat efisiensi produksi. Jika biaya total mendekati biaya tetap, maka perusahaan harus memproduksi dalam jumlah yang mendekati kapasitas optimal untuk memperoleh biaya perunit yang rendah.
  • Biaya penyimpanan yang tinggi atau biaya kerusakan produk menyebabkan produser menjual barang dalam waktu secepat mungkin untuk menghindari kerugian.
  • “Switching cost” yang rendah meningkatkan kompetisi. Misalnya shampoo atau sabun, seorang konsumen dapat beralih menggunakan sabun atau shampoo dari merk satu ke merk lainnya dengan mudah. Sehingga persaingan antara produsen sabun dan shampoo merupakan persaingan yang sangat kompetitif.
  • Rendahnya tingkat differensiasi produk juga meningkatkan kompetisi. Misalnya, produksi gula pasir tanpa merk. Meskipun dalam satu kota ada beberapa produsen gula pasir, tetapi karena tiap produsen tidak mencantumkan merk dalam kemasannya, maka dalam sudut pandang konsumen, membeli gula pasir tanpa merk yang manapun tidak ada bedanya. Berbeda jika persaingan antara gula pasir “gulaku” dengan gula pasir tanpa merk.
  • High exit barriers. Katakanlah suatu perusahaan mengalami kerugian berkelanjutan yang menyebabkan perusahaan tidak bisa beroperasi dan ingin menghentikan operasinya (gulung tikar). Keputusan untuk gulung tikar tentu tidak mudah karena perusahaan harus menyiapkan uang pesangon bagi para karyawan, kewajiban untuk melunasi hutang, tanggungan aktiva perusahaan yang penjualannya tidak bisa dilakukan dengan cepat sedangkan dalam waktu yang sama perusahaan memerlukan dana tunai dalam jumlah yang banyak.
  • Jenis kompetisi yang beragam, misalnya perbedaan budaya, sejarah, dan filosofi menyebabkan industri tidak stabil. Misalnya untuk rumah sakit yang dananya sebagian besar berasal dari donasi, tentu saja orientasinya non profit.
  • Gejolak yang terjadi dalam industri. Pasar yang sedang berkembang dan berpotensi menghasilkan keuntungan tinggi meningkatkan minat investor untuk memasuki industri tersebut. Dan pada akhirnya, jumlah kompetitor dalam industri tersebut meningkat tajam sehingga kompetisi menjadi semakin ketat.

b. Pendatang baru (potential enthrants)

Pendatang baru memasuki suatu industri dengan membawa “sesuatu yang baru” dengan tujuan untuk memperoleh pangsa pasar (jika ini berhasil maka tentunya pangsa pasar perusahaan sebelumnya bisa jadi berkurang).

Hal terpenting untuk diperhatikan adalah persiapan kita dalam menghadapi datangnya pendatang baru itu. Setidaknya kita melihat “apa yang ditawarkan?”, “bagaimana efisiensi produksinya?” sebagai bahan untuk evaluasi diri.

Pendatang baru tentunya tidak bisa memasuki pasar dengan mudah, ada beberapa hambatan yang dihadapi. Hambatan yang paling utama, ada 6 (Michael E. Porter call it Six Major Sources of Barriers to Entry. Note: Pak Porter,,, pinter sekali Anda..), yaitu:

1. Skala ekonomis (Economies of scale)

2. Differensiasi Produk (Product differentiation)

3. Modal (Capital Requirements)

4. Cost disadvantages independent of size.

5. Distribusi (Distribution Channels)

6. Peraturan pemerintah (government policy)

Penjelasan lebih rinci mengenai 6 hambatan yang dihadapi pendatang baru, klik di http://zizima.wordpress.com/2009/04/28/six-major-sources-of-barriers-to-entry-the-industry/

c. Pemasok (suppliers)

Setiap proses produksi memerlukan input yang berupa bahan baku, tenaga kerja, dan komponen produksi lainnya. Kebutuhan ini mengharuskan perusahaan memiliki relasi yang baik dengan para supplier agar memperoleh produk yang sesuai dengan spesifikasi, pengiriman barang tepat waktu, dan sistem pembayaran yang fleksibel. Oleh karena itu, dalam beberapa hal suppliers merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam menjalankan strategi perusahaan.

5-forces-supplier-kuat1 zizima.wordpress.com

5-forces-supplier-lemah zizima.wordpress.com

d. Konsumen (customers)

Dalam industri, konsumen memegang peranan yang sangat penting karena konsumenlah yang menjadi sasaran utama para produsen untuk membeli produknya dan menghasiilkan pendapatan bagi perusahaan. Tetapi kondisi yang sangat ekstrem (konsumen mempunyai dominasi dalam memegang jalannya industri), persaingan menjadi tidak sempurna. Kondisi yang paling ekstrem adalah pasar monopsoni, satu konsumen untuk beberapa produsen.

5-forces-konsumen-kuat zizima.wordpress.com

5-forces-konsumen-lemah zizima.wordpress.com

e. Barang pengganti (subtitute products or services)

Semakin banyak suatu produk memiliki barang pengganti baik dalam industri yang sama maupun berbeda, maka permintaan akan produk tersebut semakin elastis karena konsumen memiliki alternatif yang lebih banyak juga. Sehingga perusahaan perlu memperhatikan keberadaan barang pengganti dalam menjalankan usahanya. Sebagai contoh kantor pos. Kantor mengandalkan pemasukan dari pengiriman dokumen, surat, dan barang. Disisi lain, dunia telekomunikasi melalui media elektronik sedang berkembang pesat. Kantor pos kurang memperhatikan ini. Jika biasanya pada saat hari raya kantor pos kebanjiran order pengiriman kartu lebaran, beberapa tahun ini hal itu tidak terjadi karena konsumen beralih ke berbagai macam media elektronik yang lebih murah dan cepat (SMS, email, blog, dan sebagainya). Padahal jika kita lihat keduanya berada pada jenis industri yang berbeda, tapi merupakan faktor penguat bagi konsumen untuk mengalihkan sasarannya.

Referensi: Michael E. Porter, Harvard Business Review: “Strategy-Seeking and Securing Competitive Advantage”.




Comments (6) »

Six Major Sources of Barriers to Entry the Industry

Pendatang baru memasuki suatu industri dengan membawa “sesuatu yang baru” dengan tujuan untuk memperoleh pangsa pasar (jika ini berhasil maka tentunya pangsa pasar perusahaan sebelumnya bisa jadi berkurang).

Hal terpenting untuk diperhatikan adalah persiapan kita dalam menghadapi datangnya pendatang baru itu. Setidaknya kita melihat “apa yang ditawarkan?”, “bagaimana efisiensi produksinya?” sebagai bahan untuk evaluasi diri.

Pendatang baru dapat memasuki pasar dengan mudah jika: teknologi yang digunakan tidak terlalu mutakhir, waralaba masih sedikit, memiliki akses untuk distribusi barang, dan usaha dapat dimulai dari skala kecil.

Sedangkan pendatang baru memiliki hambatan yang cukup besar untuk memasuki pasar jika barang yang akan diproduksi sudah dipatenkan oleh perusahaan sebelumnya, konsumen sudah mempunyai merk favorit tertentu, alur distribusi belum terbaca dengan jelas, dan produk harus diproduksi dalam skala besar.

Sedangkan menurut Pak Porter, ketika pendatang baru akan memasuki suatu industri hal-hal yang harus diperhatika ada 6 (Michael E. Porter call it Six Major Sources of Barriers to Entry. Note: Pak Porter,,, pinter sekali Anda..), yaitu:

1. Skala ekonomis (Economies of scale)

Menurut investopedia.com, Economies of scale is “The increase in efficiency of production as the number of goods being produced increases”. Jadi, skala ekonomis mencerminkan tingkat efisiensi produksi dimana biaya rata-rata produksinya menurun (atau kalau naik maka jumlahnya tidak signifikan) meskipun jumlah barang yang diproduksi meningkat karena perusahaan mampu melakukan optimalisasi fixed assets.

Jika biaya total mendekati biaya tetap, maka perusahaan harus memproduksi dalam jumlah yang mendekati kapasitas optimal untuk memperoleh biaya perunit yang rendah

Misalnya:

Skala ekonomis berlaku pada perusahaan yang sensitif pada volume produksi.

Sering membeli barang dengan metode pesanan? Atau memberi produk masal? Mengapa produk yang dibeli dengan cara dipesan lebih mahal daripada produk masal? Disinilah perbedaannya. Karena produk masal mempunyai efisiensi lebih tinggi. Katakanlah untuk membuat sepatu dengan model tertentu (tak peduli berapa jumlah produksinya) memerlukan modal Rp.100.000 untuk alat pencetakan pola. Alat pencetakan pola adalah fixed assets yang harus dikeluarkan untuk memproduksi sepatu. Jika setiap pola hanya digunakan untuk memproduksi satu sepatu saja, maka biaya pencetakan pola dibebankan ke 1 (satu) buah sepatu itu. Jika sepatu masal, maka 1 cetakan pola bisa digunakan untuk beberapa sepatu sehingga biaya pencetakan yang dibebankan pada masing-masing sepatu menjadi lebih rendah. Inilah yang menyebabkan perbedaan harga sepatu pesanan dengan sepatu masal.

Oleh karena itu, agar kontinyuitas bisnisnya berjalan, maka pendatang baru harus menjaga tingkat efisiensi produksinya.

2. Differensiasi Produk (Product differentiation)

Menurut Kotler, differensi produk berarti melakukan suatu usaha untuk membuat perbedaan antara produk yang kita tawarkan dengan produk lainnya. Differensiasi produk dapat dilakukan dengan berbagai cara melalui harga, kualitas, pilihan produk, pangsa pasar, pelayanan, proses, preferensi (membentuk mind set konsumen)teknologi, dan lainnya (ada banyak pendapat dari Kotler, Jack Trout, Hermawan Kartajaya- Cuma ini sengaja diringkas untuk kesederhanaan penulisan).

Sebagai pendatang baru, produk yang ditawarkan harus mempunyai suatu nilai yang bisa mengambil hati pelanggan. Entah itu suatu nilai baru atau nilai lebih dibandingkan produk lainnya. Konsumen akan mengingat produk kita (dan juga merk) jika produk kita berbeda dengan yang lain.

Misalnya:

a. Mc Donald menyediakan differensiasi pelayanan dan proses dengan membuat “60 seconds program”, dimana konsumen yang dilayani lebih dari 60 detik akan mendapatkan ice cone.

b. Pocari Sweat melakukan differensiasi preferensi dengan slogannya “pengganti ion tubuh”, atau Soy Joy “sebagai camilan sehat karena kaya anti oksidan”

c. Beberapa bank menerapkan internet banking untuk memudahkan pelanggan yang menggabungkan differensiasi teknologi dan pelayanan.

Sedangkan bentuk differensiasi produk yang dilakukan pendatang baru, bisa dilihat pada contoh kasus Air Asia dan Citilink. Air Asia menerapkan sistem tiket penerbangan harga murah dan tanpa reservasi tempat duduk untuk menekan biaya. Dan beberapa saat kemudian citilink muncul dengan konsep sama, yaitu harga murah dengan menghilangkan fasilitas makanan bagi penumpang.

3. Modal (Capital Requirements)

Pendatang baru cenderung banyak bermunculan untuk jenis bisnis yang membutuhkan modal kecil. Misalnya, sekitar 3 tahun lalu, booming sekali konter penjualan pulsa. Konter penjualan pulsa merupakan bisnis yang membutuhkan modal kecil dan bisa dikatakan termasuk barang dengan jenis FMCG (Fast Moving Customer Good), sehingga banyak pemain yang ingin melakukan bisnis di bidang ini. Sebaliknya, kita lihat di industri pertambangan, sedikit sekali pendatang baru yang masuk dan bisa bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Dan tentu saja, umumnya, jika suatu bisnis membutuhkan modal yang besar, maka hasil yang akan diperoleh juga berkolerasi positif if we do it in the right track. Modal besar mutlak diperlukan karena kita juga memerlukan biaya untuk melakukan riset dan uji coba produk, membangun pabrik, memperolah bahan baku, dan bisa juga untuk meng-cover kerugian yang mungkin terjadi pada tahun-tahun pertama (ini lumrah).

4. Cost disadvantages independent of size.

Pendatang baru harus mengeluarkan biaya-biaya yang bertujuan untuk meningkatkan optimalisasi kinerjanya agar lebih baik dibandingkan dengan kompetitor. Misalnya, pendatang baru harus berupaya untuk memperoleh bahan baku yang lebih baik, menggunakan teknologi yang lebih mutakhir untuk menciptakan nilai tambah bagi produk, melakukan pemasaran untuk memperkenalkan produk, dan sebagainya. Untuk melakukan hal-hal tersebut, pendatang baru memerlukan biaya. Biaya inilah yang disebut dengan Cost disadvantages.

5. Distribusi (Distribution Channels)

Meskipun suatu produk tersebut memiliki ciri khas tertentu dan unggul dibandingkan produk sejenis atau produk lainnya, tetapi jika tidak bisa dirasakan langsung oleh konsumen, maka usaha perusahaan sia-sia. Untuk itulah perusahaan perlu mengembangkan suatu sistem distribusi yang efisien (low cost) tetapi efektif (high impact).

6. Peraturan pemerintah (government policy)

Pemerintah memberikan beberapa kebijakan untuk mendukung (meskipun ada beberapa investor yang merasa bahwa kebijakan pemerintah justru menghambat investasI) kegiatan ekonomi di Indonesia. Misalnya: Perusahaan meminta perusahaan untuk melakukan CSR (Corporate Social Responsibility) bagi perusahaan yang sudah stabil dan mempunyai penghasilan besar, CSR dengan mudahnya direalisasi. Tetapi bagi pendatang baru, CSR memerlukan perhatian dan juga biaya ekstra. Dan ini ada contoh lain, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang melarang semua operator nirkabel menggunakan menara dari perusahaan dengan investasi asing telah menyebabkan kebingungan investor, bagi investor yang sudah memiliki kerjasama dengan investor asing tentunya kebijakan ini menimbulkan persoalan biaya yang baru.

*)Artikel ini merupakan rangkuman dari hasil membaca ulasan Michael E. Porter dengan judul “How competitive forces shape strategy?” yang diterbitkan di Harvard Business Review-Strategy Series. Dan ditambah dengan beberapa buku lain dan hasil ‘berguru’. Jadi harap maklum kalau gaya bahasanya zizima banget.. ^^

Comments (4) »

Mind Mapping

Mind mapping? apa yaah.. istilah ini pertama kali aku dengar dari atasanku di kantor. Sewaktu lagi review.. awalnya aku n temanku pakai metode business model. Dan ternyata menurut atasanku, it wont work.. perlu metode lain. Then, he told me to use “mind mapping method”. Dan berlarilah aku ke google dan beberapa buku buat cari referensi yang cocok.. hasilnya? kita kutip disini yuukz..

Jadi pada dasarnya metode ini menggunakan otak kita sebagai sarana untuk memetakan masalah. Oke, kadang kita mengetahui masalah secara tersebar dan tidak terstruktur. Sehingga untuk mencari solusinya yang secara sistematis kita kesulitan. Seperti kita ketahui otak manusia merupakan otak yang paling sempurna dibandingkan dengan otak binatang lainnya termasuk otak binatang mamalia, otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar oleh karena itu otak manusia dapat dikatakan sebagai otak belajar. Otak kita terbagi menjadi 2, kiri untuk logika dan kanan untuk kreativitas atau seni.

Untuk mengenali dan memahami masalah ada 2 cara, yaitu catat, tulis, susun (CTS) dengan cara menghubungkan apa yang kita dengar dan menuangkannya ke bahasa yang kita pahami dalam bentuk tulisan. Dan teknik kedua adalah pemetaan pikiran (mind mapping), yaitu pemetaan masalah dengan menggunakan otak kanan dan otak kiri. Metode ini ditemukan oleh Tony Buzan di tahun 1960. Maksudnya? kita intip lebih lanjut dibawah yaah…

Jadi gini, kalau kita memahami masalah dengan menggunakan metode CTS (kita hanya fokus) mencatat, memahami, dan menuangkan kembali masalah itu dengan menggunakan tulisan (logika=otak kiri). Tapi kalau menggunakan mind mapping kita menuangkan masalah tersebut dalam beberapa simbol atau gambar untuk mempermudah penjelasan. Kalau balik ke hasil kerjaanku tadi, aku menganalisa masalah dan lalu menyajikannya dalam bentuk tabel, tulisan, dan angka. Dan jika atasanku menyarankan untuk menggunakan metode mind mapping, berarti aku musti membuat semacam gambar simulasi untuk mempermudah penjelasan.

Aku coba dulu yaah.. doakan berhasil :)





Comments (3) »

Hitung jumlah cell yang sama dalam worksheet

Ada sedikit ilmu baru yang aku dapat. Bagi seseorang yang mahir menggunakan excell tentu ini hal yang mudah, tapi tentu tidak dengan pihak yang masih belajar.. (makasih buat Mas Eka yang udah share ilmunya yaa.. ^^)

Tentang bagaimana menghitung jumlah cell yang sama dalam satu kolom atau baris atau satu range.
Misalkan, aku mau menghitung berapa cell yang isinya “ada” dari kolom “D” berikut ini:


menghitung-jumlah-cell-yang-sama excell zizima.wordpress.com

Narasi:

Perlu diketahui berapa jumlah dokumen yang sudah ‘ada’ dan ‘belum’. Jika datanya sedikit seperti tabel di atas kita bisa menghitung manual, tapi jika datanya banyak sekali tentu akan lebih mudah jika kita menggunakan excel.

Untuk mengetahui jumlah dokumen yang sudah ‘ada’, input:

=COUNTIF(D3:D22;”ada”)

Untuk mengetahui jumlah dokumen yang ‘belum’ ada, input:

=COUNTIF(D3:D22;”belum”)

Dari hasil perhitungan formula tersebut akan diketahui bahwa dokumen yang sudah ada berjumlah 15 dan yang belum ada 5.

Mudah bukan?



Comments (4) »