Renungan dari senior: ‘Mengapa Perkawinan Menjadi Tidak Bahagia?”

jendela-pernikahan1Artikel ini kuperoleh dari email seorang teman.. namanya Mbak Fitry Ati (makasih banyak yaa.. artikelnya.. sangat membantu🙂 )
Artikel ini menceritakan tentang kehidupan setelah pernikahan. Meskipun belum menikah tapi bukan berarti dengan membaca ini kita jadi seperti mendahului takdir.. anggap saja ini suatu referensi yang bisa kita jadikan renungan atau mungkin semacam ‘reminder’ saat kita menikah nanti.. Insya Allah..
Kesimpulan artikel ini, meskipun Ibu bertugas menangani kegiatan rumah tangga yang seperti tidak akan pernah habis dan bisa diselesaikan dalam 24 jam sehari, tapi seorang Ibu juga wajib memperhatikan Sang Ayah. Karena Ayah juga membutuhkan perhatian dari Ibu.

Artikelnya seperti ini:

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya
melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia
selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah,
karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak,
karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi,
dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap
sore, ibu selalu membungkukkan nbadan menyikat panci, setiap
panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda
sedikiktpun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel
seinci demi seinci, lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding
sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski
berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita
yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu)
bukan pasangan yang baik. Dalam proses pertumbuhan saya, tidak
hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam
perkawinan, tidak memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki
yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam
pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat
libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur
waktu istrirahat anak – anak, ia adalah seorang ayah yang penuh
tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam
pelajaran. Ia suka
main catur, membuat kaligrafi, suka larut
dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak,
ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan
mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang
pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali
saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut
halaman.

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi,
menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan. Dalam proses
pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam
perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya
mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan
perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga
tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri :
Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang
bahagia?

Pengorbanan yang dianggap benar. Setelah dewasa, saya akhirnya
memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun
mengetahui akan jawaban ini. Di masa awal perkawinan, saya juga
sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat
panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh -sungguh berusaha
memelihara perkawinan sendiri.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri,
sepertinya juga tidak bahagia.
Saya merenung, mungkin lantai
kurang bersih, masakan tidak enak, lalu, dengan giat saya
membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati. Namun,
rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia.
Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai,
suami saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan
musik! Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat
masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ?

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata
yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu
saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. Saya sedang
mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus
mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya…….

Apa yang kamu inginkan ?

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan
teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan
yang dia inginkan dalam perkawinannya, Waktu ibu menyikat panci
lebih lama dari pada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu
dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah
yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia
berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah
mengerjakan urusan rumah tangga. Dan aku, aku juga menggunakan
caraku berusaha mencintai suamiku.

Cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya
tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik
mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia. Kesadaran
saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama. Saya
hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami,
menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi
kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?

Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor
sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu,
dengan begitu kau bias menemaniku! ujar suamiku. Saya kira kamu
perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang
mencuci pakianmu..dan saya mengatakan sekaligus serentetan
hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. Yang paling kuharapkan
adalah kau bisa lebih sering menemaniku, ternyata sia-sia semua
pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya
terkejut. Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan
baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan
pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing
bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar
kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga
dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya,
waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling
memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan
bila berangkat.
Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup
sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar. Ini
adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang
akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh. Menurutku,
ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia
bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan
serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.
Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari,
namun, jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan
kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari
semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang
dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar
bugar merancang perjalanan keluar kota. Menariknya, pergi ke
taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada
pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa
menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan
kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke
tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam
suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam.

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini
telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam
perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. Kini,
saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka
terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak
kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua.

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun, pihak kedua tidak
dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian
perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. Karena Tuhan
telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang
pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan
cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan
pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri,
perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
Semoga bermanfaat.

~ by Zizima on April 1, 2009.

11 Responses to “Renungan dari senior: ‘Mengapa Perkawinan Menjadi Tidak Bahagia?””

  1. wah aq suka artikel ini…
    Bener2 sangat memberikan pengetahuan baru yg tak pernah q tau…thanks…

    • Semoga membantu yaa.. Kalau Mas Siro udah nikah semoga bisa jadi motivasi yang bagus.. kalau belum semoga nanti waktu udah menikah bisa dijadikan reminder yaaah🙂

  2. ‘perkawinan yg baik, pasti dapat diharapkan.
    Semoga bermanfaat’

    Sangat bermanfaat, thanks🙂

  3. suit suit ck ck ck ck…..ada yg mau nikah nih…nuansa2nya melow plus ttg pernikahan gitu he he…..amin amin mudah2an bisa segera menyempurnakan ibadah…sbhnlh…

    btw, iya memang……menikah adlh sebuah misteri Illahi, lebih seru drpd naik jet coaster, aplg jk nikah muda booo he2…secara khan belum ada temen…penuh tantangan (tp trnyt sekarang angkt’04 udah banyak yg mau nikah ya…aku ikut bahagia…akhirnya ada temennya ho ho…bercanda)

    but, stj bhw, smua org pengen pernikahannya bahagia….tp kadang cara pandang yg berbeda menyebabkan konflik….=)..ya namanya ibdh separoh agm pst penuh tantangan ….gitu kali ya

    btw, mudah2an jeng izma nih cpt nikah…ayo ayo ……mumpung harga sembako belum naik2 amat….Insya Allah enak yg penting tujuannya ibadah, ya kalaupun ada masalah mudah2an bs dianggap bunga2 kehidupan (ceile)…doain ya biar aku jg ttp istiqomah =)…..

    oya sekalia promosi blog baru (trnyt wordpress g bs buat 7an komersil ya….hiks) http://palaceofsmartworld.blogspot.com

    nikmati suguhan yg sederhana….=)

    • Mau nikah? Insya Allah.. tentunya mau nikah dunk Miyosi.. Tunggu tanggal mainnya, hehhe, tapi kapan yaah??

      Nanti aku akan belajat ma kamu yah tentang mengarungi bahtera rumah tangga itu kaya gimana.. ^^

      Aduuh,,, makasih banyak doanya.. semoga Ijabah, Amiin.

      Hoohoho. gitu yah? padahal aku juga pingin buat yang komersial tapi nantiiiiiii kalo udah pinter, hehe..

      Aku balik kerja dulu, ni nyuri2 waktu.. cz kangen melulu ma blog ini😀
      Sukses ya ….

  4. 9eveqK hqfnkqfxiqdn, [url=http://nljpzhugpunv.com/]nljpzhugpunv[/url], [link=http://fxujqevbtczv.com/]fxujqevbtczv[/link], http://fkbjderbyzxx.com/

  5. hmmmm, intinya komunikasi yah…

    wah uda bikin blog ni..

    aq jd pgn,,tp percuma kalo q bikin..
    soalnya jrg ada yg mau Qtulis…

  6. Mbak LIsna yuk bikiiiiiiiin ^^

  7. bagus banget tulisannya…..

    sebelum nikah dulu aku juga nyari banyak referensi, ngumpulin banyak teori, dan belajar sana sini ttg MENIKAH

    setelah menikah dan praktek sendiri bisa kusimpulkan bahwa teori kadang jauh berbeda daripada praktek, seseorang tidak akan pernah bisa ngerasain sebelum ngelakuinnya sendiri

    banyak banget sifat pasangan yang kadang membuat hati kita bangga namun tak jarang juga mbuat kita mengelus dada

    intinya menikah memang ibadah yang membuat hidup kita jadi penuh warna

    kalau sebel sama kerjaan di kantor, se ekstrim2nya bisa mbanting komputer, trus beli lagi, walau harus nabung

    tapi kalau sebel sama suami?? bisakah dibanting?? yang ada malah KDRT. itulah uniknya, saat itu perasaan benar2 diuji, tp ketika lulus ujian hati bener2 lega

    intinya, bila ingin merasakan smuanya dan nggak hanya sekedar teori ya menikahlah😀

    salam kenal

    Reply:
    makasih dah mampir, salam kenal juga ya…
    Wah, info yang sangat berharga niiih ^^

  8. Sulit skali rasanya mencapai bahagia dlm pernikahan jika hanya satu org saja y memikirkan bagaimana caranya agar perkawinanitu bahagia,smentara pihak lainnya hanya mengupat dan menyesali pernikahan itu,sulitnya menjadi bahagia dlm perkawinan….

    Reply:
    karena segala sesuatunya itu memerlukan keseimbangan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: