Ana, Faid, dan Zizi-I

old-france-ana-faid-dan-ziziSeperti biasa, setiap sore pukul 5, lelaki itu akan melewati depan ruangan ini dengan gayanya yang sangat kukenal. Dia tinggi. Jika berjalan sedikit menundukkan kepala. Dan akan menyapa dengan senyum di mukanya yang tampak sedikit lelah kepada siapa saja yang bersimpangan dengannya. Rambutnya lurus, pendek, tidak terlalu rapi dan seringkali tampak basah. Entah basah karena air atau ‘cream’ rambut aku tak tahu. Selalu saja di tangan kanannya dia membawa beberapa tumpuk buku, buku absen sedangkan tangan kirinya menggenggam handphone. Dan selalu ada pena di saku bajunya. Ya, gaya itu sangat ‘dia’. Sangat mencerminkan bahwa dia adalah seorang dosen muda dengan semangat yang sangat menyala.

Dan seperti biasa, setiap menjelang pukul 5 sore, aku duduk di meja ini. Beraksi seolah sedang memainkan komputer. Dan mataku selalu memandang kearah luar pintu untuk melihatnya lewat. Aku akan tersenyum sendiri dari balik komputer setelah melihatnya.  Dudukku menghadap pintu dan tentu saja mukaku akan sedikit tertutup oleh komputer didepanku saat aku sedang melihatnya berjalan melintas di depan pintuku. Oke, ini bukan melihat, karena aku tidak ingin dia mengerti bahwa aku melihatnya. Tapi ini juga bukan mengintip karena aku tidak melihatnya melalui lubang kecil. Apapun namanya, aku melihatnya dengan modus seolah tidak terlihat. Gaya ini sangat ‘aku’. Aku seorang mahasiswa yang gemar mengamati dosen mudanya.

Namanya Faid. Dia sederhana dan rendah hati. Siapapun yang sudah mengenalnya dengan baik pasti setuju bahwa Faid orang yang mempunyai pengetahuan yang tidak sesederhana pembawaannya dan sangat luas. Hanya saja, dia sangat pemalu. Aku bertemu dan melihat Faid pertama kali ketika dia sedang bermain gitar di sebuah acara kampusku. Dia melantunkan lagu yang belum pernah ku kenal dan lagu itu masih tetap kuingat hingga sekarang meski aku belum pernah mendengarnya lagi.

******

“Ana… Ana…”, Zizi memanggilku dengan sedikit berteriak dari arah tempat parkir.

Aku hanya melambaikan tangan. Zizi berlari kecil kearahku. Zizi salah satu sahabatku. Dia manis. Ceria. Pintar. Tentu saja hal ini membuat beberapa kaum Adam di kampus ini menaruh hati padanya.

Ana, kau tau tidak…” seru Zizi sambil membuka jaketnya.

Apa? kamu pasti habis di jemput si ‘ehem-ehem’ yaaa?” gurauku sambil memukul pelan lengan Zizi. Dan melihat sekilas pipinya yang bersemu merah saat aku menggodanya.

Ah, kau ini… Oya, Ana, nanti tolong kau antar aku ya? Aku pingin lihat baju musim dingin yang ada di Exe. Mau ya Ana? Hari  ni kamu libur kan? Plizzz…” Zizi memohon dan memainkan tasnya.

Oke-oke… Jangan lupa kita mampir bakso bakar“.

Siiip… aku juga udah lama gak kesana. Sebelum aku hanya bisa memikirkan makanan itu dalam khayalan saja. Hihiihi….”  Zizi tertawa lebar.

Aku dan Zizi sudah lama bersahabat sejak SMU. Kami sudah saling mengenal. Hanya saja, setelah 7 bulan terakhir aku memutuskan untuk mendaftar menjadi Asisten Komputer aku jarang pulang kuliah bersamanya. Ya, tugas baruku ini mengharuskan aku berada minimal 4 jam perhari di Lab. Komputer untuk mengerjakan tugas dari beberapa dosen. Oleh karena itu aku selalu pulang di atas jam 7 malam. Awalnya aku tidak ada niatan menjadi seorang Asisten Komputer. Aku tidak sedang kekurangan biaya, karena aku sendiri sudah mempunyai bisnis makanan kecil yang kudirikan secara patungan dengan sepupuku dan aku hanya perlu mengontrolnya seminggu sekali saja (untuk ini aku sangat bersyukur). Aku  hanya ingin sibuk. Ingin menghanyutkan diriku dalam suatu kesibukan. Untuk menghilangkan benang kusut yang ada di otakku ini.

Ada satu hal yang sangat mengusik pikiranku 7 bulan terakhir. Bagaimana tidak? Seseorang yang kusuka dan tidak pernah terlintas dalam bayanganku bahwa dia akan berani untuk melamar gadis yang dia suka. Ya, Faid, lelaki yang seringkali aku amati tiap jam 5 sore akan menikah 3 bulan lagi dengan Zizi, sahabatku. Faid dan Zizi akan segera terbang ke Australia karena Faid memperoleh beasiswa untuk penelitian disana. Zizi memutuskan cuti 2 semester, menikah, mengikuti Faid penelitian dan mengambil observasi untuk skripsinya. Dan aku? aku akan tenggelam dalam kesibukanku, menyelesaikan skripsiku segera, mendapat pekerjaan, dan pergi dari kota ini.

Gambar di ambil dari http://www.kapanlagi.com/wp/a/old-france.html

~ by Zizima on April 8, 2009.

11 Responses to “Ana, Faid, dan Zizi-I”

  1. Wah, lho, kok smpe dsitu aja? Nunggu terusanna ah. Afterall, kipa ilakes cara penulisane. Menghanyutkan iki, jk jd novel. Tak lwatkan jatah makan malanku buat tau kelanjutannya. Keep up the good work.

    • Makasih…. cerpen yang dibuat dengan tidak sengaja.. mau melanjutkan terusannya terus terang masih dipikir. Gak tau kenapa ya kok akhir-akhir ini aku suka bersinggungan dengan sastra😀

  2. Mungkin terinspirasi dgan sesuatu, atau seseorang? Hehehe. Lanjutannya? Biarkan ana yg memutuskan…

  3. Yaaaaaahhhhh…… nanggung….
    Terusin Bu…..
    Kutunggu……😉

    Kayaknya aku bisa mbayangin mukanya Ana ;p

  4. Yaaaaaahhhhh…… nanggung….
    Terusin Bu…..
    Kutunggu……😉
    Kayaknya aku bisa mbayangin mukanya Ana ;p

  5. so sweet……

    hny perkiraan…..zizi dlm cerita ini adlh yg pny blog ini (hua ha ha) kali ajaaaaaa!!!

    jd mbayangkan, suatu saat nanti kt bs berduet=)

    • Wehehe.. makasih ya Miyosi dah baca cerpen yang agak gak jelas😛 (tapi aku akan belajar keras :))
      Hoho.. bukan-bukan,, tapi terilhami.. dengan sedikit tambahan sana sini, hehe

  6. Ana urungkan niatnya. Menemui Faid. Mengutarakan apa yang ingin diutarakannya. Dan berlalu tanpa harus tahu reaksi lelaki yang tak pernah bosan dipandanginya itu. Juga Zizi.
    Lalu ia menenggelamkan diri dalam kesibukannya. Skripsi. Pekerjaan. Dan kabur dari kota ini. (hehehehehe…….)

  7. cerita tentang: cinta segitiga yang melibatkan sahabat juga cinta terpendam mmg tiada habis tuk dibahas

    cukup keren

    saya suka

    apa bukunya sudah terbit? saya penasaran dengan akhirnya seperti apa, trutama mengenai kasih tak sampai yang terpendm

    thx

    Reply:
    makasih dah mampir.. doakan ya Dea..🙂

  8. ehm…… ^ ^

    penulis ya mbak?

    Reply:
    sedang belajar🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: