Just a deposit (hanya titipan)

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku…,
bahwa sesungguhnya…. ini hanya titipan
Bahwa mobilku hanya titipan Nya, bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya

Tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yg bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yg cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas, dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan.

Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
“aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan
menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk
beribadah…

“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

-WS Rendra-

~ by Zizima on July 23, 2009.

4 Responses to “Just a deposit (hanya titipan)”

  1. waahh..aku suka aku sukaa…kata2nya bener2 menggambarkan aku banget dan mungkin kebanyakan makhlukNya..

    Reply:
    Iyah,, pertama kali baca aku juga langsung berasa perlu instropeksi🙂

  2. I love it !!!!😉

  3. Masalahnya adalah, manusia sangat terbatas dalam banyak hal. Antara lain dalam memahami dan menyikapi setiap apa yang terjadi dalam hidupnya. Jarak pandangnya yang terbatas tak mampu menembus satir-satir hikmah yang ada di balik setiap peristiwa. Sehingga, yang ada hanyalah keluh kesah, derita dan kesedihan. Padahal, semua itu merupakan tangga-tangga menuju ma’rifatullah.
    Catatan yang reflektif, mbak Zizima, keep writing…

    Reply:
    Memang benar.. meski kita makhluk yang sempurna, tapi kenyataannya kita tetep punya banyak keterbatasan.
    Itu juga mengapa kita dituntut untuk selalu bersyukur dan ikhlas dengan apa yang ada..

    Makasih.. sukses ya..🙂

  4. Akhirnya bang rendra lepas juga dari derita n nikmat dunia.

    Slamat jalan bang rendra.

    Reply:
    Iya mas… tapi sajaknya masih ketinggalan n tetep dikenang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: