Dia… 10 tahun lalu

Tiba-tiba ada inspirasi buat cerita… Jadilah ini. Masih perlu banyak perbaikan.. ^^

———————————————————————————————-

Suasana kota ini sedikit berbeda. Lebih ramai dari saat aku pergi dulu. Sudah ada jembatan layang diperempatan menuju terminal. Lalu lintas lebih teratur meski lebih padat. Busku perlahan memasuki terminal. Teriakan kondektur dan antusiasmenya menarik calon penumpang membuat tersenyum. Sepertinya mereka memang menyebalkan, tapi itulah adanya. Mereka hanya manusia biasa yang perlu melakukan upaya untuk mencari nafkah. Berbagai cara dia lakukan untuk menyambung hidupnya.

Busku sudah berhenti. Sengaja aku tidak segera turun. “Nanti saja”, pikirku. Sedikit enggan berdesakan keluar bus. Aku toh tidak ada yang menjemput, jadi tak ada gunanya terburu-buru. Setelah agak sepi barulah aku beranjak, mengambil tas ranselku di tempat bawaan di atas kursi. Membetulkan letak jaketku dan segera turun.

Landungsari landung sari,,, Landungsari mas? Gawe AL. Kebek-kebek,,, langsung budal” (landungsari landung sari. Landungsari, Mas? Naik AL. Penuh, langsung berangkat). Teriak kernet menghampiriku. Wajahnya sudah penuh peluh. Meski mukanya tampak garang, tapi sepintas ada garis lelah disana. “Mboten, Pak. Maturnuwun” (Tidak, Pak. Terima kasih). Aku menolaknya dengan halus. Seharusnya aku naik angkutan itu untuk sampai ke rumahku. Hanya saja kali ini aku ingin ke suatu tempat.

———————————————————————————————–

Kiri, Pak“. Aku memberhentikan angkotan kota yang aku naiki. Aku  menyeberang. Heem.. Udara di kota ini sungguh lengang dan segar. Suasana ini yang ingin aku temui. Meski ada suasana lain yang sesungguhnya aku hindari dari kota ini. Dan kali ini aku benar-benar harus berhadapan dan tidak bisa lepas dari suasana itu. Aku berjalan dan terus mengamati keadaan di sekelilingku. Dulu, 10 tahun lalu, ketika aku masih SMA, pinggiran jalan ini hanya diisi rumah-rumah dengan gaya kolonial klasik. Berwarna krem pucat atau putih dengan taman dominasi dedaunan berwarna hijau subur. Aku sering berjalan sambil bermain bola di sini. Saat ini suasana itu sudah hilang ditelan waktu. Rumah-rumah lebih berwarna. Taman yang diganti paving. Dan adanya papan lampu bertuliskan nama usaha yang sedang di dirikan di atas tanah-tanah bekas rumah itu. Segalanya telah berubah.

Yang tidak berubah adalah hatiku. Dihatiku masih ada satu nama dari sejak aku SMA hingga saat ini. Hanya ada nama Ajeng di hatiku. Tidak ada yang lain. Sungguh aku sangat konservatif. Kepergianku ke luar kota untuk melupakannya tak juga merubah isi hatiku. Aku lihat lapangan voli. Di sampingnya berderet pepohonan. Mulai pohon mangga hingga tanaman pagar. Masih rapi seperti dulu. Aku duduk di pinggir lapangan ini. Aku masih ingat, di tempat ini aku lihat Ajeng untuk pertama kalinya. Saat itu dia sedang keluar dengan teman-temannya. Dia berlari-lari kecil. Saat itu hujan. Aku hanya berani memandangnya sekilas. Tak ada keberanian dalam hatiku untuk menegur atau mengajaknya berkenalan. Aku  malu dan agak segan.

Sejak saat itu aku selalu duduk di tempat ini, untuk melihatnya keluar. Meski aku satu sekolah dengannya, aku merasa disinilah bisa melihatnya tanpa takut dia menyadari bahwa aku sedang mengamatinya. Saat itu aku selalu berdoa, agar aku bisa mengenalnya lebih dekat. Entah bagaimana caranya. Karena aku pemalu. Sampai saat aku kelas 3, sungguh aku sangat bersuka cita, aku sekelas dengannya. Dia duduk di depan. Aku di belakang. Meski hanya memandangnya dari belakang sudah cukup. Aku jadi lebih mengenalnya, bagaimana cara dia berbicara, caranya menjawab pertanyaan guru, dan bagaimana dia memperhatikan guru saat pelajaran. Satu semester itu aku belum berani berbicara padanya. Bahkan aku menghindari satu kesempatan bersama dengannya. Aku selalu salah tingkah.

Semester kedua, aku mulai kenal dengannya. Aku mulai berani menyapanya. Tentu saja dengan malu-malu. Aku sudah sangat senang jika dia menyapaku terlebih dahulu (tentu saja dia melakukan itu, aku teman sekelasnya). Aku semakin dekat, mulai teman satu kelompok untuk laboratorium dan les tambahan. Aku jadi semakin mengaguminya. Perasaan ini aku simpan rapat dan erat. Aku tak ingin dia mendengar dan membuatnya menjauhiku. Meski aku yakin dia bukan gadis yang seperti itu. Ajeng tentu memiliki banyak penggemar di sekolah ini. Tidak seperti aku yang hanya mampu memandangnya dan mengamatinya saja. Aku tidak punya nyali. Ajeng yang berpembawaan tenang tetapi ramah dan pintar tentu dengan menambat hati siapa saja. Termasuk aku.

Saat itu kita harus giat belajar, menjelang ujian kelulusan. Les tambahan semakin intensif. Aku semakin sering melihatnya dan mengenalnya. Sampai pengumuman kelulusan aku belum melakukan apa-apa. Sedih hatiku saat melihatnya membaca pidato perpisahan murid kelas 3 di hadapan guru dan orang tua saat malam wisuda. Senang mendengar dan melihatnya tersenyum cerah karena sudah diterima di perguruan tinggi yang diharapkannya tanpa tes. Senang karena aku juga mengalami hal yang sama. Sekaligus sedih, karena saat inilah aku harus terpisah dengannya. Kota yang berbeda akan membuatku semakin jauh dan aku tak berani sedikitpun mengungkapkan perasaanku padanya. Aku hanya mampu menyimpannya dalam hati saja.

———————————————————————————————

Aku sudah bertekad bulat. Ingin meminangnya. Kepulanganku kali ini adalah untuk menemuinya dan kemudian memastikan dia belum menikah dan aku meminangnya. Aku harus memenuhi janjiku sendiri. Aku berjanji akan meminangnya jika aku sudah usia 26dan aku masih belum bisa menghapus namanya dari  hatiku. Aku menghela napas dan memejamkan mata seraya berdoa “Ya Allah.. bantulah dan berikanlah hambaMu ini ketenangan serta keikhlasan hati.”

Bersambung ya,,🙂

~ by Zizima on August 28, 2009.

6 Responses to “Dia… 10 tahun lalu”

  1. nice story…kisah kasih disekolah ^^ serasa membaca cerminan diri sendiri waktu sekolah dulu… tapi hanya berangan-angan dan just say hallo… ^^ sampai akhirnya ga pernah berpacaran xixixixixi….. semoga sama dengan langsung meminang seseorang seperti tokoh utamanya (ga sebut nama karena ga tau siapa namanya ^^)

    Reply:
    apalagi buat wanita, cuma bisa dieeem aja… maluu…
    Amiin.. aku doakan segera menikah dengan yang diidamkan ya.. ^^

  2. Nice story,.. seperti pengumuman besar bagi para Introvert-er di seluruh dunia,..
    hehehe,.. Excelent.!!!

    Reply:
    hayo hayo,, makanya kalo suka jangan lama-lama mendamnya ya, hehe

  3. cinta terpendam…oh…so sweet🙂

    ehm..kira2 ceweknya dah nikah belum ya? ataukan mereka berdua merasakan hal yg sama?? wah penasaran…hi hi

    salah satu settingnya di sekolah…SMA lg…wiiiih…bener2 mengingatkanku pd masalalu ttg “kisah kasih di sekolah” (sing disebutno pada comment sblmnya)…ehmmm…mmg kalo jodoh takkan lari ke mana ya…kalo diingat dulu he2…..masa2 SMA itu….wiiiihhhh🙂

    Reply:
    hehe iya,, aku bangeeet,, suka memendam😀
    Nah itu dia Miyosi, aku masih belum menentukan ending yang pas, hehehe, dah kaya sutradara aja…

    Cuit cuiiitt kayanya ada yang kisah kasih di sekolah ma kuliah ni, hehe, pizzz ^^

  4. Ehm…

    Smsku yang kapan hari tentang pertanyaan di sisi yang berlawanan telah memberimu inspirasi ya ? ( GR dikit lah, hahahahahahaha )…. I hope so

    Menyenangkan kan ternyata😉
    Kutunggu sambungannya

    Reply:
    Bener Niiit.. dengan berusaha membayangkan dari posisi yang sebaliknya, dapat banyaaak banget inspirasi yang belum pernah terpikir sebelumnya. Satu hal penting: inspirasi datang dari mana saja🙂
    Sambungan? ni masih berpikir mau dipikir seperti apa ya?? heeem..

  5. Nah ini namanya anchoring dlm istilah di NLP… pikiran kita persis kayak jangkar yg tercantol oleh memori yg amat mendalam di hati.
    No problem selama positiv🙂

    Reply:
    makasih ya udah mampir.. hehmm.. iya memang bener.. semakin dalam kesannya semakin membekas di hati, semakin susah pula buat dilupa🙂

  6. hahahaha…..😀

    Reply:
    kenapa kok ketawa selebar itu? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: