Planning without commitment is nothing

Planning

This picture taken from: http://www.learnthenet.com

Yang paling penting dari suatu rencana itu komitmen. Planning without commitment is nothing.

Houuw, bukan tanpa sebab tiba-tiba aku nulis gitu yah. Ceritanya, kadang ni aku punya planning yang baguuss banget. Saking bagusnya aku sampe berasa amazing bisa punya pemikiran buat planning yang kaya gitu (hehehe, muji diri sendiri). Sampe akhirnya waktu berlalu dan berselang, aku merasa ada yang hilang. Woouw, ternyata aku belum terlalu merasakan manfaatnya planning yang aku buat itu.

Atau mungkin kasus yang beda dari suatu perusahaan. Saking gedenya ni perusahaan ni punya Function yang namanya Planning Division. Tugas utama ya jelas sesuai namanya itu, buat perencanaan. Timnya ada sekitar 10 orang. Yang masing-masing punya job desk sendiri, ada yang tugasnya buat financial planning, business plan, activity plan, strategic plan, people development plan, n plan-plan yang lainnya. Sama kaya aku, ternyata perusahaan ini juga belum merasakan implikasi yang signifikan dari adanya perencanaan.

Kalau yang dari tingkat pribadi seperti cerita pribadiku, alasan kenapa planning yang udah di define gak terlaksana dengan baik karena keterbatasan waktu. Okay, katakanlah ini benar. Waktu yang ada memang bener-bener terbatas. Hingga akhirnya sang pemilik waktu memprioritaskan hal-hal yang lainnya. Kaya aku! Hehehe, pengakuan nih ceritanya. Punya banyak rencana tapi kadang terlaksana cuma 2. Semoga habis ni bergerak ke arah yang lebih baik yah. Ohya, gunakan semua fasilitas reminder buat ngingetin kita ma self planning yang udah di buat. Manfaatkan HP sampe ke outlook. Itu semua supaya kita ingat n punya komitmen yang tinggi buat nerapin planning yang udah dibuat.

Kalau yang tingkat perusahaan gede, suatu perencanaan membutuhkan komitmen yang kuat dari semua stakeholders-nya, mulai dari shareholders, CEO, Top Leaders, Manager, sampai ke Karyawan. Kenapa musti punya komitmen? Karena ketika suatu function telah menyelesaikan tugasnya membuat perencaan, sejatinya itu hanya selesai 20% aja (sesuai Teori Pareto Chart: menyelesaikan perencanaan hanya menyelesaikan 20% pekerjaan saja, sisanya terselesaikan setelah planning itu terimplementasi sesuai dengan tujuan yang ditetapkan).

Jadi, komitmen dan konsistensi jadi kunci efektivitas planning yang udah kita buat. Artikel ini sekaligus jadi reminder buat diriku sendirišŸ™‚


~ by Zizima on November 3, 2009.

3 Responses to “Planning without commitment is nothing”

  1. Bener juga nie. Jika planning + komitmen + konsistensi = perjuangan dan doa. Hehehe, mungkin bisa diasumsikan juga kalo efesiensi = perjuangan dan doa (pengorbanan) dibagi hasil. Ngawur banget deh. (“.)?

    Reply:
    Tipikal teknik banget mas,, mengkuantifikasikan hal kualitatif, hohoo
    Apapun, memang perlu yang namanya usah plus doa yang dilakukan secara paralel n kontinyu ^^

  2. Wahahaha. Kentara banget yah? Padahal coba menyembunyikan perubahan kualitatif jadi kuantitatif. Walaupun gak begitu paham apa artinya. ^^

    Reply:
    hehehe.. gak lah mas.. lak mesti kelihatanšŸ˜€

  3. wah,. dapet ilmu baru neh,.. Thanks ya Ma,..

    Reply:
    Share berdasarkan pengalaman sendiri.. semoga berguna yaaa.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: