Telaten

snail: slow but sure.

Telaten itu bahasa jawa atau Indonesia ya? Kayanya sih jawa tapi kayanya juga udah banyak yang mudeng ama artinya ya. Jadi gak perlu panjang-panjanglah debat tentang asli bahasanya (belum-belum dah mulai ngelantur nih).

Tentang telaten, katanya, wanita itu jauh lebih telaten dari para pria. Is that true? Emm, kadang kurang setuju juga sih. Lha aku sendiri juga kadang heran n suka terkagum2 sama seseorang yang lagi mbatik, lagi bikin kerajinan tangan, ama akuntan (lha aku dewe kaya bukan lulusan akuntansi aja, hehe), n lainnya. Meski pembatik itu kebanyakan wanita, tapi pengrajin n akuntan juga banyak cowoknya. Malah byasanya yang sukses n well performed itu yang cowo. Byasanya lho ya, bukan semuanya.

Omong-omong telaten, ni dia satu hal yang sampe sekarang sedang aku pelajari, “how to be more patient?”. Kebiasaannya, pengen mengerjakan segala sesuatu dengan cepat. Nah keinginan ini yang jadi kadang bikin aku lupa tentang “detail-detail” kecil yang seharusnya di perhatikan. Asumsiku, pengen cepet ngerjainnya. Tapi pas di akhir sesi pengerjaannya, sadar kalo ada banyak detail yang kudu diperhatikan juga. Jadi, tetep kudu telaten pada intinya.

Misalnya, ada tugas: buat template monthly report per masing-masing company. Setiap company karakternya beda, jadi seharusnya bikin templatenya ya masing-masing company. Kebayang dong, aku musti bikin 27 template yang berbeda (jumlah companynya ada 27). Ku simulasi, habislah waktuku seharian buat bikin itu doang. Aku lirik “work list”-ku. Lhaa, ada banyak yang harus di kerjain. Terbesit jalan pintas: “Bikin aja deh satu, biar disesuaikan ma companynya sendiri-sendiri”. (sambil berdoa moga sukses trik yang satu ini).

Taraa.. jadi deh template generalnya. Seneng. Merdeka, satu tugas dah kelar. Habis gitu, aku baca-baca lagi. Dum dum, ketemulah masalah: setiap company gak bisa disamain KPInya. KPI belum di sebar. Jadi mau gak mau kudu dibikin template masing-masing. Ehem-ehem, emang ya kudu telaten aku ini… T_T

Kubikinlah satu-satu template per perusahaan. Sesuai hasil simulasi, pekerjaan ini sukses makan waktu sehari. Ngerjain dari jam 8 pagi sampe jam  6 malam lebih (kepotong ishoma ma baca email masuk). Hasilnya? Subhanallah, seneeng banget gitu bisa ngerjain itu semua. Yang awalnya gak kebayang, jadi dilakuin, well done. Semacam ada angin segar pas aku lihat sendiri hasil kerjaan (narsis dikit, hehe).

Intinya: jangan dipikirin banyaknya dulu, lakuin aja satu-satu. Don’t be panic. Kalo udah berasa bosen ya selingi dulu. Hidup telaten! ^^

So, I’ve decided: to be more patient is one of my resolution this year. Termasuk bersabar menunggu keajaiban bersama yang kusayang. Amiin🙂

____________________________________________________________________

Ada masukan dari temanku yang namanya Budi, kalo dalam telaten kita musti memperhatikan variabel waktu. Nice. Memang bener, kalo misalnya lagi ujian terus kita fokus sama nomor satu sampe setengah jam sendiri, padahal ada banyak soal. Gak kelarlah ujian kita🙂


Note: pic taken from Jake the Cake’s Poetry for Children.

 

 

 

Cheers,


~ by Zizima on January 14, 2010.

4 Responses to “Telaten”

  1. Intinya, nikmati tiap detik waktu yang ada. Jangan terpaku pada hasil yang pengen kita capai di depan, sampai lupa buwat fokus pada apa yang kita kerjakan. *ngomong apa aku ini??*
    hehe, aku juga sering ngalami itu. Pengen cepet2 beres, eh ternyata hasilnya kurang memuaskan karena kita jadi gak fokus.

    Reply:
    bener bangeeeeetz.
    kadang fokusnya jadi bukan gimana ngerjain dengan baik, malah jadi gimana ngerjain dengan cepat, hehe.

  2. setuju sama mbak2😀

    Reply:
    Siip🙂

  3. Mungkin kata “telaten” itu sengaja di desain dari kata “telat” kali yak.? Biar kesane nggak terburu2,.. nggak cepet2. Lalu sengaja di beri akhiran “en” biar ngesanin nggak belakangan,.. males2an,.. lelet,.. dll. Hehehe,. kiddink,. cuma nerapin ilmu “mengarang bebas” aja. ^_^)

    Tapi tetep aja ada plus minus untuk segala sesuatu, bahkan untuk hal sepositif apapun, termasuk telaten. Analogi teknis:

    * terkadang kita terlalu “telaten” pada soal no 1 sehingga lupa ada 9 soal di bawahnya yang mesti diselesaikan juga. Jadinya,.. satu soal terjawab dengan sempurna, sementara 9 lainnya terbengkalai begitu saja. hehe

    ini juga seh yang sering aku alamin. terlalu fokus pada satu hal,.. terlalu banyak menciptakan asumsi,.. en terlalu peduli dengan detail. terkadang jd lupa dengan overview masalah.

    tapi Isma bener,.. terkadang telaten juga diperlukan untuk memberikan penyelesaian terbaik pada suatu hal. walaupun mungkin dengan tetap memperhatikan variabel waktu sebagai pengontrol,.. hehehe.

    Reply:
    Manteeep sekali penjelasannya sodara budi🙂
    Memang gitu, kadang terlalu fokus sama detail tapi malah lupa sama variabel waktu yang terus berjalan. Atau malah terlalu cepet ngerjainnya tapi kualitas jadi terabaikan.
    Intinya: make it balance ^^

  4. telaten tuh dari bahasa jawa. diambil dari kata teliti yang konsekuensinya melakukan dengan sabar dan meminimalisir kesalahan.

    telaten juga ada hubungannya dengan melakukan sesuatu dengan terperinci, melihat sesuatu dengan global, memilah mana yang lebih prioritas, dan melakukan satu persatu.

    Reply:
    Nice explanation..
    Bener juga ya.. emang kalo telaten ujung-ujungnya pasti kita teliti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: